UDHIYAH (Bab Udhiyah Kitab Sabilal Muhtadin)

Udhiyah ialah binatang yang disembelih baik unta, sapi, kerbau atau kambing karena menghampirkan diri kepada Allah pada waktu yang akan diterangkan kemudian. Dalil yang menetapkan korban ini

dan firman Allah yang Artinya:

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”

(QS. Al Kautsar:2)

Dan Nabi SAW. bersabda yang artinya:

“Tidak jua yang dikerjakan oleh manusia pada hari raya yang lebih dicintai Allah dari mengalirkan darah. Dan ia akan datang pada hari kiamat nanti dengan tanduk-tanduknya dan kuku-kukunya dan darahnya yang terjatuh dari Allah di suatu tempat mulia sebeluh jatuh ke bumi maka ikhlaskan hati berkorban” (HR. Tirmidzi, Hakim dan Ibnu Majah dari Aisyah)

Nabi SAW. bersabda yang artinya:

“Muliakanlah korban korban kamu karena ia Jadi tunggangan kamu di titian pada hari kiamat”

(keterangan di atas di ambil dari BAB UDHIYAH hal 1051-1052 Kitab Sabilal Muhtadin)

Waktu menyembelih korban dimulai sesudah terbit matahari pada hari raya dan sesudah kadar selesai shalat dan dua khotbah yang pendek dan lebih afdhal melambatkan sampai matahari naik segalah semenjak waktu yang disebut diatas sampai hari tasyrik ialah tiga hari sesudah hari raya haji. Rasulullah bersabda:

“Setiap hari tasyrik itu adalah waktu menyembelih korban”.

Jadi Jumlah hari untuk menyembelih korban itu empat hari, yaitu hari raya dan tiga hari tasyrik. Siapa yang menyembelih korban sebelum hari raya atau pada hari raya sebelum waktu yang diterangkan diatas atau sesudah hari tasyrik maka tidaklah sah korbannya. Nabi SAW. bersabda:

“Yang pertama yang kita laksanakan pada hari kita ini ialah shalat hari raya sesudah itu kita kembali dari tempat shalat kita menyembelih korban.  Barang siapa mengerjakan yang seperti itu maka diperolehnya sunah kami dan barang siapa menyembelih korban sebelum hari raya maka daging yang didahulukannya untuk makanan isi rumahnya saja dan tidak termasuk sedikit jua pun ibadah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sunat bagi yang berkorban memakan daging korban yang sunat tetapi yang terafdhal jangan memakannya terkecuali sedikit saja karena mengambil barakah dengan korban itu.  Dan terafdhal yang dimakan itu adalah hati dan yang sisanya disedekahkan karena Nabi SAW. seperti yang diriwayatkan oleh Baihaki hanya memakan hati binatang korbannya, sesudah itu yang afdhal memakan sepertiga dari jumlah dagingnya yang dua pertiga lagi disedekahkan dan yang afdhal sesudah itu dimakan sepertiga, disedekahkan kepada orang miskin sepertiga dan dihadiahkan kepada orang yang mampu sepertiga. Maka dari tiga bentuk ini diberi pahala atas seluruh korbannya dengan disedekahkan tidak menghilangkan sebagian dari pahala korban kaerana dimakan atau dihadiahkan sebagian. Wajib bagi orang yang berkorban pada korban yang sunat menyedekahkan sebagian daging korbannya sekalipun sedikit dan haram memakan semuanya.

(keterangan di atas di ambil dari BAB UDHIYAH hal 1061-1062 Kitab Sabilal Muhtadin)

KITAB SABILAL MUHTADIN LIT TAFAQUNI FID DIN (Oleh: SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI)

Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah dilahirkan disebuah desa dekat kota Martapura, Kalimantan Selatan sekitar tahun 1707 M. dari keluarga yang sederhana, dimasa pemerintahan Sultan Tahlilullah (1700-1734 M). Semenjak kecil sudah tampak cirri-ciri yang luar biasa pada dirinya, di antaranya kecerdasan serta sikap sopan santunnya sehingga Sultan Tahlilullah tertarik dan mengirimnya ke Makkah untuk mempelajari ilmu-ilmu agama Islam.
Di Makkah ia mempelajari Pengetahuan agama Islam dengan Syekh Athaillah dan belajar ilmu tasawwuf dengan Syekh Muhammad bin Abdulkarim Al Madani di Madinah, dan sesudah 35 tahun menuntut ilmu ia kembali ke Kalimantan.
Sekembali dari Makkah ia mendirikan sebuah tempat pengajian yang kemudian dinamakan “Dalam Pagar”. Selama 20 tahun ia mengajar di tempat itu, banyak murid-muridnya yang datang dari pelosok kerajaan Banjar, sesudah mereka mendapat pendidikan agama yang cukup, mereka kembali ke daerah masing-masing dan dengan cara demikian agama Islam cepat berkembang dalam kerajaan Banjar.
Disamping mengajar, Syekh Muhammad Arsyad banyak juga menulis kitab-kitab agama dan sebuah karyanya yang terbesar ialah “Kitab Sabilal Muhtadin Lit Tafaguni Fid Din”, yang terdiri dari dua jilid yang kesemuanya berisikan fiqih ibadah. Kitab ini ditulis atas permintaan Sultan Tahmidullah, ditulis dalam bahasa Melayu, pada tahun 1193 H, dan selesai pada tahun 1195 H (1779-1780 M), dan baru dicetak untuk pertama kali dengan serempak pada tahun 1300 H (1882 M) di Makkah, Istambul dan Kairo. Kitab ini sangat terkenal di seluruh Asia Tenggara seperti Philipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, Brunei, Kampuchea, Vietnam dan Laos. Karena kaum muslimin di daerah-daerah ini masih mempergunakan bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa pengantar dalam ilmu agama.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin

Sebagai penghormatan dan penghargaan terhadap Ulama Besar alm. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang selama hidup-nya memperdalam dan mengembangkan agama Islam di Kerajaan Banjar atau Kalimantan Selatan sekarang ini, nama Sabilal Muhtadin dijadikan sebuah nama Masjid terbesar di Kalimantan Selatan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.